Tuesday, October 17, 2017

Langkah Pertama di Kawah Ijen

Kembali lagi bersama Amellooo! Kayaknya udah lama banget adinda nggak ngetik-ngetik di blog ini hohoho Terakhir kemana ya? Ah iya, Gunung Sindoro! Gunung yang lokasinya teletak di Wonosobo, Jawa Tengah. Oke kali ini Aku mau bahas perjalanan kesekian kali ku, sebenernya setelah Gunung Sindoro masih banyak banget Gunung yang udah Aku daki bersama teman-teman sependakian tapi mungkin aku ceritain nanti ya, satu-satu hihihi. 

Nah jadi kali ini aku mau ceritain perjalanan yang sungguh amat berkesan. Mau tau kemana? BANYUWANGI ! Banyuwangi adalah adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa TimurIndonesia. Ibu kotanya adalah Kota Banyuwangi. Kabupaten ini terletak di ujung paling timur Pulau Jawa di kawasan Tapal Kuda, dan berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan serta Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso di barat. Kabupaten Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur sekaligus menjadi yang terluas di Pulau Jawa, dengan luas wilayahnya yang mencapai 5.782,50 km2, atau lebih luas dari Pulau Bali (5.636,66 km2). Di pesisir Kabupaten Banyuwangi, terdapat Pelabuhan Ketapang, yang merupakan perhubungan utama antara pulau Jawa dengan pulau Bali - Pelabuhan Gilimanuk (Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Banyuwangi).

Aku kesana dengan menggunakan Kereta Api, nama keretanya Sri Tanjung dengan jadwal keberangkatan 21 Augustus 2015 tujuan SOLO - BANYUWANGI dengan jam keberangkatan 08.10 WIB. Awalnya aku berencana pergi ke Banyuwangi itu sendirian, dengan rencana ke Kawah Ijen dan Baluran, tapi ternyata ni temenku yang kuliah di Malang pengen ikut soalnya ngga tega wkwkwk katanya sih “ngapain anak perempuan ngelayap sendirian? Sini aku temenin” begitu… yah se-enggaknya dia udah beneran melaksanakan tugasnya sebagai lelaki, yaitu : “Menjaga Perempuan” :p … ok karena dia beneran mau ikut, akhirnya kami janjian ketemu di Stasiun Banyuwangi, dia berangkat dari Malang, dan Aku berangkat dari Solo. Begitulah permulaan rencana kami.


Tiket Kereta Api Solo - Banyuwangi

Akhirnya hari H pun datang, hari yang ditunggu-tunggu gadis asli Bekasi ini hahaha… jujur sebenernya udah lama banget pengen ngebolang ke Banyuwangi, tapi terkendala banyak rintangan dan halangan. Menggunakan speed motor vario aku berangkat pagi-pagi dari Kosan menuju stasiun Purwosari, supaya ngga ketinggalan kereta. Ku tak tahu berapa lama ku kan pergi, dan aku belum cerita sama orang tua kalo mau peergi jauh (kebetulan orang tua tincal di Bekasi, dan aku kuliah di Solo, jadi kami LDF: Long Distance Family). Tapi emang sebenernya tiap mau pergi jauh ngga bilang sih wkwk 

Aku membawa semua perlengkapan tempurku mulai dari kerir, kamera, sleeping bag, tenda, senter, makanan siap saji, beras, minuman, pakaian, kaus kaki, dan segala macam yang kubutuhkan disana, takut-takut kalo tiba tiba ada yang dibutuhkan dadakan disana. Setelah semua siap, aku memasukkannya didalam keriir dan keriir kutaruh dibagian depan bawah sepeda motor varioku. Dan dengan mengucap Bismillahirrahmanirahim, aku melajukan sepeda motorku ke arah Stasiun Purwosari.

Angin pagi kala itu sagat mebuat bersemangat, dan Alhamdulillah cuaca dikala itu sangatlah mendukung kepergianku…

Sesampainya di Stasiun Purwosari, aku memarkir motorku dengan niat dinginapkan disana. Sambil berdoa agar tidak hujan selama ku pergi, karena kasian motor dan helemku kalo sampe kehujanan. Saat memarkirkan kendaraan, kulihat beberapa traveller dengan “kulkasnya yang besar-besar” juga terlihat akan bepergian, kayaknya sih jauh. Aku pun berjalan masuk kedalam stasiun purwosari, dan mencari tempat duduk kosong untuk menunggu, karena kerir (bener ngga nih tulisannya?) yang kubawa lumayan berat Kawans. Mungkin kalau ditimbang 7kg ada kali ya? Gatau jg sih muahaha...

Sambil menunggu kereta datang aku memainkan handphone sambil update status di Path. Sesekali Kulirik kali aja ada yang bisa dilirik :p orang berlalu-lalang di stasiun, ada yang mengejar kereta Prameks (Prambanan Ekspress), ada yang bercanda dengan kelompoknya, ada petugas kereta yang sedang bekerja, dan berbagai macam hal lain yang umumnya terjadi di stasiun kereta.

Setelah beberapa lama ku menanti, di ujung penantian datanglah kereta emasku. Terdengar suara petugas yang mengumumkan bahwaa kereta api Sri Tanjung sudah memasuki kereta, dan para penumpang dipersilakan untuk segera bersiap-siap menaiki kereta. Dan aku pun mempersiapkan bawaanku, dan yeah I’m in, let’s start the adventure !

Didalam kereta kulihat masih banyak kursi yang kosong. Kalau gini mah ngapain beli tiket jauh-jauh hari, toh kursinya banyak yang kosong. Gumamku sambil berjalan mencari kursi yang sesuai dengan nomor di tiketku. And got it. Dengan tergopoh-gopoh ku angkat kerirku ke atas tempat penyimpanan barran yang beard di atas kursi penumpang. Kulirik rombongan lelaki berjumlah tiga orang disamping kursiku berharap ada yang peka. Tapi…. jreng... jreeeng…

Ga ada yang peka broooo… boro-boro peka, nengok aja nggak *sigh

Yaudah akhirnya dengan sok kuat, aku naik ke atas cursi dan pelan pelan kuangkat kerrirku sambil pelan-pelan mengangkatkya keatas tempat penyimpanan…

Satu…

Dua…

Tiga…

Hap hap hap, sampai !

Dengan begini kunyatakan diriku sebagai wanita yang tangguh!

Aku duduk dikursiku sambal bersandar ke jendela, ya maklumlah ga punya sandaran jadi nyandar ditempat yang ada aja :’) Kumainkan Game Ragnarok Online yang ada di handphoneku dan mengecek ada siapa aja member guild yang lagi online, berharap ada yang bisa diajak ngobrol. Karena menurut aku pribadi, solo travelling sebenernya enak. Tapi terkadang ku merasa kesepian, apalagi kalo ga ada yang bisa diajak ngobrol. Waktu itu kondisi tempat duduk didepanku masih kosong, jadi ngga bisa ngajak ngobrol siapa-siapa. Tapi enaknya kalo solo travelling itu mengajarkan kita buat hidup mandiri dan berani. Dan bisa ngajarin kita buat kenalan sama orang lain, mau modus juga bisa. Bisa banget.


kursi kosong yang hakiki


Ngomongin Modus nih ya, buat agan-agan dan sistah-sitah yang agak sulit dalam berkenalan dengan lawan jenis. Nih adinda kasih tips. Coba deh sepik-sepik sama orang lain pas lagi traveling. Dijamin ampuh! Tanya kenapa? Soalnya moment sepik-sepik waktu traveling itu meomen paling enak buat ngedeketin orang. Masih ga percaya? Coba gih, pasti ketagihan wkwkwk *pengalaman pribadi, silakan ditiru.

Lupain soal modus, perjalanan dari Solo ke Banyuwangi ternyata lumayan jauh kawan (kalo naik kereta api). Lebih jauh daripada Jakarta - Solo via kereta api. Dan cukup bikin bosen juga sih. Untungnya,  putaran MP3 Banda Neira waktu itu jadi pemecah kesunyian dan kehampaan yang kurasakan *eeaaaa . Sesekali lirik celingak-celinguk sana sini mau ngajak ngobrol orang tapi ga ada yang bisa diajak egobrol, yaudah diem lagi deh sama handphone hahahaha

Nggak kerasa duduk barjam-jam di kereta, akhirnya sampe di Stasiun Kertosono. Nyampe situ aku iseng nulis status di facebook sambil check in, dengan curhatan :

Masih 148km lagi, ibarat perjalanan solo-jakarta kalo naik mobil ini mah. Ra tekan tekan ðŸ˜‚

Eh ternyata alhamdulillah ada temen di Banyuwangi ngerespon, dan dia nanya

“Kok lu ga ngabarin gw jadi kesini mel? “

Yeeeaaayyy sambil menyelam minum air, sambil traveling kita bersilaturahmi.

Namanya Indah, dia dulu Tangerang tapi pindah ke Banyuwangi karna kepindahan orang tuanya. Aku ketemu dia waktu main ke Malang (Oke, aku akan ceritakan kisah syahdu di Malang ini next time). Kami diperkenalkan lewat teman kampusku yang kebetulan mengenal Indah. Doi ini anaknya friendly banget guys! Dia baik banget suka bantuin temennya yang kalo lagi jalan ke tempatnya. Cantik, ramah, asik deh pokoknya. 

Kuambil handphone dari tas kecilku, dan langsung whatsapp doi mengabarkan keberangkatanku. Karena kami jarang bertemu, dan harus memanfaatkan momen ini. Dan aku gnash tau rencanaku blablabla apa aja, sedetail mungkin. Doi pun bilang mau jemput aku di stasiun. Oke shiyap!

Hari udah siang dengan posisi matahari tegak lurus, kulihat keluar jendela banyak pepohonan dan persawahan. Langit biru menghiasi pemandangan dikala itu. Terlihat beberapa burung terbang, sambil mikir ini udah nyampe mana wkwkwk

Sepanjang perjalanan aku tertidur pulas, dan tau-tau udah sampe Surabaya. Ngeliat keluar sambil mikir : enak kali ya kalo kerja di Surabaya? mau jalan-jalan deket. cuma sampe sekarang adinda menulis ini, adinda nggak dikasih ijin kerja disana gaes hiks hiks

Di Stasiun Surabaya, kereta mulai dipenuhin orang-orang disana. Ramai. Seketika kereta api dengan tujuan Banyuwangi penuh. Ternyata penuhnya di Surabaya. Banyak banget orangnya, dan seketika tempatku yang tadinya kosong melompong kayak piring kosong keisi penuh. Iseng aja kutanya bapak-bapak sebelah mau kemana, karena bosen gada yang bisa diajak egobrol. Ternyata bapaknya mau pulang ke Jember. Wow Jember, penasaran sama Taman Nasiona Metu Betirinya hihihi

Akhirnya sekitar jam sembilan malam, audio speaker Kereta Sri Tanjung menyuarakan bahwa sebentar lagi kereta api akan memasuki stasiun terakhir, STASIUN BANYUWANGI. Dan disana banyak orang bersorak sorai.

YES FINALLY !

Termasuk aku yang girang banget.
Akhirnya kumenginjakkan kaki di tempat lain di Jawa Timur, Banyuwangi, selain Malang. 





Kulihat rombongan lelaki yang duduk disebelah kursiku buat berkemas, nah terjadilah percakapan singkat. Ternyata mereka mau ke Bali, mereka mahasiswa semester 5 Institut Seni Indonesia Yogyakarta mau liburan ala backpacker. Sempet ada ajakan dari mereka buat ikut, tapi kutak bisa. Udah janji sama Rifki (Temen yang di Malang) dan sama Indah juga. Akhinya kami say good bye di stasiun.

Turun dari kereta kukebelet pipis, liat logo toilet kulangsung pergi ke toilet, dan legaaaa. Abis dari toilet langsung nunggu Indah di kursi penunggu, dan nunggu rifki juga. Ternyata kereta Rifki baru dateng sekitar jam 22.00 WITA. Yaudah nunggu aja deh, lagian belum tau juga mau kemana. Karena jujur nih, pas rencanain kesini, kami emang niat pasrah aja sama keadaan. Tidur ngegembel di stasiun sementara, besok paginya baru lanjut. Eh tapi tiba-tiba terdengar suara…

“Mel Amel”

Terdengar suara cewek memanggil namaku. Itu Indah! Iya Indah. Dia beneran dateng ngejemput. Terus aku diajak doi mampir ke warung ibunya. 

Gengs, sekalian mau rekomendasiin ya. Jadi, buat kalian yang mau ke Bali/Banyuwangi via darat, kalian bisa mampir ke warung dideket Stasiun Banyuwangi. Jadi ini tempatnya tuh enak banget, makanannya juga enak. Pelayanannya ramah. Pokoknya buat kalian para traveller/soloveller, mampir ya! Disana suasananya juga asik. dijamin ga nyezel <3


Penampakkan Warung

Selagi ngobrol sama indah, aku pamit dulu mau balik ke station jemput rifki. Berangkat bareng indah, kami nungguin rifki didepan stasiun. Selang beberapa lama kemudaian sosok lelaki dengan siluet tinggi dateng nyamperin kami. Dan Uda pun sampai (Red: Rifki orang Padang).

Disana Indah nanya kami mau kemana, mau tidur dimana. terus kami jawab paling tidur di stasiun wahaha. Eh tapi Indah nawarin kami buat tidur dirumahnya, aku nanya dulu ke rifki doi mau ga. Eh ternyata Uda ga mau bahaha katanya ga enk, dan malah nyuruh aku buat tidur tempat indah aja. Ya kali tut anak ditinggal sendirian, ya ane tanya 

“lu orang mau tidur dmn emangnya? Ga apa sendirian? “

Dan doi hanya menjawab

“cowok mah bebas”

Yowes nek ngono. Aku bareng Indah langsung meninggalkan rifki seorang diri. hiks. Maafkan aku rifki. Kumerasa berdosa padamu…

***
Besok pagi ternyata aku sama indah bangun kesiangan, rifki udah ketar ketir misscaall.. Kami cepet2 bersihin badan mandi, siap-siap and balik lagi ke stasiun. Kami janjian di warung ibu yang lokasinya di stasiun. Disana rifki Utah duduk.


Rifki, Me, Indah


Ternyata rifki ini semalaman tidur dikapal laut tujuan Katapang-Bali-Ketapang. GILA, Kalo gitu aku ikut bahaha…

Kami pun menyusun strategi.

***

Perjalanan kami pertama di Banyuwangi adalah Kawah Ijen. Kami kesana nyewa motor disalah satu agen travel di Banyuwangi. Lumayan murah Rp 60.000/hari. Sementara kami sewa buat tiga hari. dan perjalanan kami ke Kawah Ijen dimulai sekitar pukul empat sore. Kami awalnya ngajak Indah, tapi Indah gaberani malem-malem, jadinya ya cuma aku dan rifki.

Sebenernya disana banyak banget agen tur di pinggir jalan yang nawarin ke Ijen, tapi berhubung kami adalah mahasiswa yang butuh pengiritan dana seminim mungkin, kami menolak. Dari Blog yang sebelumnya kubaca juga ada cara lain selain nyewa motor dan ikut agen, yaitu numpang truk pengangkut hasil tambang di Ijen. Tapi truknya cuma ada di jam-jam tertentu, dan berhubung kami takut ngga bisa on time karena keasyikkan, jadinya ya kami tetep pada pilihan nyewa motor. 

Mengandalkan GPS di handphone, kami memulai perjalanan. Sepanjang perjalanan ramai banget Gase, jalanan ke kawah ijen itu mirip jalur Selo Boyolali yang mau ke arah Gunung Merapi gitu, naik turun, jurang. Dan ternyata pas kami kesana itu laga ada perayaan Ijen Jazz Festival. Jading macet banget. Parah. Dan jalanan ketutup sehingga kami harus nunggu acara berakhir dulu. Kebayang kan dijalanan naik turun gitu kalo macet gimana?

Akhirnya aku sama Rifki nunggu sampe acara Ijen Jazz Festival selesai. Acara baru selesai sekitar jam 23.00 WITA. Nah pas kami nunggu acara selesai kami kenalan sama mahasiswa dari UGM, Akhirnya kami pun bareng mereka. Lumayan kan daripada berdua doang?

***

Dari tempat Ijen Jazz Festival kami melanjutkan perjalanan ke atas. Jalanannya gelap. Kiri kanan hutan. Tapi Bagus. Cahaya rembulan menemani perjalanan kami semua. Ngebayangin pasti dikawah bagus ni.. 


Ijen Jazz Festival. Maafkan ngeblurr


Setelah menyusuri jalan yang udah di aspal kami samppe di basecamp ijen. Disana kami harus administrasi Rp 5000,00/orang (kalo sekarang nggak tau ya berapa) dan baru bisa naik jam 01.00 WITA. Kenapa? Karena jam segitu asap belerang ga terlalu pekat dan dinilai aman buat para pendaki. 

Selagi nunggu jam satu, kami pun berdiam di warung kopi dekat basecamp samba cerita-cerita. Rifki ngopi, aku nyusu (Red: minum susu).

***

Jam udah nunjukin wake pukul 01.00 WITA, dan petugas mengumumkan bahwa pendaki udah bisa memulai pendakian. Kami pun bergegas naik ke atas. Ternyata Capek juga, kirain pendek wkwkwk. Waktu naik ke atas, banyak penambang batu belerang bawain belerang dengan tangan kosong dan kereta dorong. Aku coma bisa ngebayangin itu Batu yang dibawa beratnya berama kilo? Batu coy, ditumpuk-tumpuk. Semoga bapak-bapak penambang selalu sehat ya pak. Dan ketelah melakukan penanjakan Selma kuren lebbig dua jam, kami sampai diatas. Dan tau apa Yang pertama kali kuliat?

THE BLUE FIRE!

Tau ngga sih kalian kalo yang kayak gini tuh cuma ada dua di dunia? Salah satunya ya di Indonesia ini, sebagai Rakyat Indonesia aku merasa bangga. Karena keindahan alam di Indonesia itu Amazing banget dan ini bener-bener…

SUBHANALLAH ! Keren bangeeettttt !!!!

Aku nyoba buat motret blue fire-nya, tapi telat. Waktu turun kekawah itu ngantrinya panjang bgt, kebetulan waktu aku turun itu barengan sama rombongan dari Thailand. Mau permisi duluan ga enak wkwk akhirnya yaudah ngantri ampe sekitar jam 5an nyampe jura dibawah. Tapi blue firenya Utah ga keliatan, udah kebanyakan sinar matahari. Yaudah motret seadanya aja deh…

Dibawah ini kusajikan beberapa foto yang berhasil kutangkap di ijen… dan kalo ada kesempatan, kuingin kesana lagi. Amin…

Kawah Ijen

Kawah Ijen sekitar waktu Subuh 

Kawah Ijen sekita waktu Subuh (2)

Matahari multai menunjukan sinarnya secara perlahan, Sunrise. Aku yang melihat ini pun langsung memanfaatkan cahaya matahari untuk menghangatkan badan, dan uhh hangat syekaliii (abaikan statement alay ini). Setelah puas dengan foto yang ku ambil, aku naik lagi keatas nyari rifki buat sarapan. Tapi ternyata kawan seperjalanan kami dari UGM yang aku barengi tadi udah masak mie goreng (gaboleh sebut nama merk) dan kami pun makan hingga kenyang. 

Ketika perut sudah menunjukkan kekenyangan yang haqiqi, kami memutuskan turun gunung. Soalnya asap belerang disana udah mulai naik dan pekat. Terlihat para pendaki mulai menuruni gunung satu persatu, ngga cuma para pendaki, para penambang pun multi menuruni gunung. Aku beserta teman-teman pun mulai melangkahkan kaki menuruni gunung. Sambil foto-foto pastinya.

Perjalanan menuruni gunung ijen cukup memakan waktu juga ternyata. Beberapa kali aku kepeleset dikarenakan nggak pake sepatu gunung, cuma modal sendal gunung + dilapisin kaos kaki doang hahaha. Alhasil jadi kepeleset terus. Soalnya jalur pendakian disana penuh pasir kering, maklum waktu kami kesana pas lage musim kemarau. Mungkin karena itu juga pasirnya jadi pada kering dan bikin licin. nah gara-gara kepeleset ini bikin jas hujanku sobek-sobek. Kebetulan hawa di Ijen itu dingin banget, jadinya aku pake jas hujan celanaku buat menangkal dingin yang menghinggapiku. Entah karena aku pake jeans jadinya dinginnya kerasa nusuk-nusuk. 


View from Ijen, Maafkan blurr lagi

Selagi kami menurunin gunung ijen, kami ngeliat pemandangan Gunung Raung dari tempat kami berdiri. Kebetulan waktu kami ke kawah ijen itu posisinya pas Gunung Raung abis meletus. Kami pun foto-foto disana. Bagus banget pemandangan disana kawan. Pohon-pohon ngelilingin gunung, langit biru yang bersahabat. Subhanallah.

Andai aja mata manusia bisa motet langsung ke handphone, pasti bakal jadi keren banget. Karena sesungguhnya kamera terkeren di dunia itu adalah mata manusia. 

Basecamp! Akhirnya kami sampai di basecamp. Kami yang kelelahan langsung ambruk dipelataran basecamp. Untung banyak rumputnya, jadi bisa gugulingan disana hahaha. Hari udah siang, disana kami liat ada homestay ternyata. Muklum kami kan ngelakuin perjalanan malam, jadinya nggak peka sama lingkungan sekitar. Di basecamp kami memesan makanan, ya apalagi kalo bukan mie rebus sama es teh manis wktk. Makanan paling mudah dicari dan paling bikin nagih tiap main ke gunung, makanan terlezat ketika traveling ke gunung huahuahua. 


Parkiran di Kawah Ijen

Abis makan dan kenyang kami pun tertidur dan terlelap…
Angin berhembus menggelitik badan, aku pun terbangun. Kulihat parkiran motor udah sepi, nggak serame sebelumnya. Terlihat beberapa rombongan mahasiswa UGM yang bersama kami mulai packing dan merapikan barang-barangnya, mereka bilang mau melanjutkan perjalanannya. Ke Surabaya kalo nggak Salah. Tadinya aku mau bareng mereka kalo mau balik ke Jogja, tapi ternyata mereka mau ke Surabaya dulu ngembaliin temennya. Akhirnya mereka pamit, dan kami pun berterimakasih. Sayangnya, wake itu kami ngga bertukar nonor handphone, jadinya yaudah blass situ aja. Tapi termina kasih ya udah ngasih pengalaman baru :)

Aku dan Rifki pun mulai merapikan alat tempur kami, bersiap untuk pergi ke tempat selanjutnya. Taman Nasional Baluran. Itu awal rencana kami. tapi ya manusia hanya bisa berusaha. Selebihnya Tuhan yang menentukan.

Penasaran gimana kelanjutan petualangan kami? 

Nantikan di post selanjutnya !!! Hihihi

mau rapiin portfolio dulu Kawan, maklum lagi nyari kerjaan huahuahua...
x